Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan
10 Jan 2012
13 Des 2011
Andi Wabster, utara sebelah Gunung Roh mencakar langit
Prolog
Ini
adalah pasir, terhampar di suatu pantai, seringkali tersentuh para gelombang
yang menggulung. Ada kalanya di suatu ketika pasir-pasir itu bersentuhan dengan ujung perahu yang
tersesat, menempel pada telapak kaki yang basah karena baru saja tercebur di
laut yang asin. Tanpa mereka inginkan, kaki tadi membawa beberapa kawanan pasir
menuju daratan yang lebat dengan rerumputan hijau. Dari setiap langkah yang
diciptakan kaki tadi, beberapa butiran pasir terlepas dan tercecer meninggalkan
bekas pada dedaunan rumput. Hingga akhirnya langkah yang terpincang-pincang itu
pun roboh di bawah pohon kelapa yang tua tak berbuah.
Di
bawah lambayan pohon kelapa, di suatu ketika yang sepi, di malam yang berhiaskan
dengan cahaya rembulan yang purnama. Andi bersembunyi di balik rerumputan
tinggi yang merongga, tangannya gemetar sama seperti jantungnya yang berdetak
begitu kencang memompa ketakutannya. Panah berpeluru perak itu sudah terbilas oleh
keringat Andi, keringat yang sejak lama terus bertambah keluar dari
pori-porinya.
10 Okt 2011
The Octavius
Suara
gelombang menghempas dinding kapal dan mengoyangkannya bagaikan seorang
perempuan yang sedang menari mengikuti alunan musik yang melancolis. Antonio
membuka kotak musik kecil berlapis kayu dengan ukiran indah disetiap sisi dari
kotak tadi. Menikmati alunan musik yang keluar, membiarkan tubuhnya ikut
bergoyang di atas kursi goyang yang terus bergerak mengikuti hempasan
gelombang.
Malam itu semua awak kapal tertisur senyap,
semuanya terbius oleh kabut tebal yang datang dengan tiba-tiba, meniupkan rasa
ngantuk di bola mata mereka dan membawa jasad mereka semua ke alam lain yang
jauh dari kerasionalan pikiran. Semua tergeletak begitu saja, bisu dan hanya
terdengar suara deru gelombang yang menggulung.
Antonio menutup kotak musiknya,
menghentikan pergerakan kursi goyang lalu turun dan mulai melangkah maju ke
depan dengan tangan kanannya menggenggam kalung salib yang menurutnya
mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Dia menapak anak tangga, menuju keluar
ruangan yang tiada henti terus berdenyit, dia membuka pintu yang tidak terkunci
dan menajamkan pandangannya pada sosok puluhan awak kapalnya yang tergeletak
dengan mata memebelalak keluar tanpa sedikit senyuman di wajah mereka semua.
Pemandangan di tengah laut yang sangat mengerikan.
11 Jun 2011
Tiga Tentara Lucifer
Dedaunan yang berserakan seakan terkikis oleh terpaan angin, membuat mereka menari di dalam keterbatasan gerak, menari di dalam jiwa yang tidak bernyawa. Sosok sendu yang tersisa berbalutkan jas panjang hitam dengan sejuta kepiluan. Hingga akhirnya langkah itu mulai menjauh dengan kepiluan yang tidak pernah hilang. Perasaan cinta itu selalu ada, tapi cinta itu terlanjur telah tiada. Dan pekuburan itu hening tanpa kata-kata.
Langganan:
Postingan (Atom)


