8 Jul 2012

‘Silent Memories’ ; Novel Pertamaku yang Kelam dan Menegangkan


Mencoba untuk Berani
Setelah selama setahun niat untuk menerbitkan buku sempat tertunda, akhirnya pada tahun ini—Juni 2012—kesempatan itu datang menghampiriku. Sejak pertama kali ingin menerbitkan buku, entah kenapa aku lebih berniat untuk menerbitkan sebuah novel daripada sebuah kumpulan cerpen—walau pun pada kenyataannya aku sering sekali menulis cerpen—, mungkin karena lebih menantang, sebab tak mudah menulis sebuah cerita dalam rilis yang cukup panjang akan tetapi masih menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, hingga akhirnya mulailah aku mencari bahan cerita yang memang jarang diangkat oleh kebanyakan penulis di Indonesia. Cerita dengan genre thriller pisikologi.

27 Jun 2012

[If Complicated] Bab Enam


Kotak musik dimatikan, semuanya duduk dengan secangkir teh yang masing-masing berada di hadapan mereka. Alvin, Edward dan Eliana diam menatap kearah Septi yang duduk di atas bangku kayu kecil memegang sebuah alat musik yang segera akan dimainkannya. Sebuah cello sudah tersandar dan siap untuk dimainkan.

26 Jun 2012

[If Complicated] Bab Lima


Daun-daun masih belum kering karena hujan, tapi sekawanan awan hitam telah pudar dan memutih, keindahannya terlihat telah kembali, begitu juga dengan ketenangannya. Pegunungan Naras yang cukup tinggi membuat semua pemandangan indah yang ada di bawahnya terlihat lengkap, padi-padi yang menguning, danau, taman bunga dan laut yang tak berujung, tampak begitu komplit, segar dan membahagiakan—semoga saja kebahagiaan itu akan sama dengan Perasaanku nantinya. Ucap Edward dalam hatinya.

[If Complicated] Bab Empat


Eliana bersandar pada pagar pelabuhan menatap indahnya sang surya yang separuh tertelan lautan tanpa ujung. Awan-awan yang terlihat, hanyalah awan-awan tipis yang bergerak pelan seirama dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Suara mesin kapal yang merapat dan suara orang-orang yang sedang sibuk di pelabuhan menghiasi setiap detik yang berlalu.